JAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS) By: Rangga.
- Masyarakat Cinta Indonesia Cinta Komisi Pemberantasan Korupsi (Cicak) menduga serangan sejumlah pihak terhadap KPK masih akan berlanjut. Menurut Koordinator Cicak, Usman Hamid, upaya penjemputan paksa penyidik KPK Novel Baswedan bukan teror yang terakhir pada lembaga antirasuah tersebut.
"Surat penangkapan pada Novel kemarin masih belum memenuhi syarat. Kami menduga ada kemungkinan upaya penangkapan dan lainnya belum akan dihentikan," kata Usman dalam aksi dukung KPK bertajuk "Di Mana SBY?" di Bundaran Hotel Indonesia, Ahad, 7 Oktober 2012.
Karena itu, Cicak mendesak Presiden bersikap tegas dalam kasus ini. Presiden diminta memerintahkan Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo agar tidak memanfaatkan bawahannya untuk tujuan-tujuan di luar hukum, dan di luar tugas serta fungsi pokok kepolisian. "Langkah Polri di KPK pada Jumat malam lalu itu keliru. Mereka juga terlalu vulgar menggempur KPK," kata Usman.
Usman menilai pengiriman personel kepolisian ke Kuningan, Jumat malam lalu, tak semata ingin menangkap Novel Baswedan, penyidik yang bertugas di KPK. Sebab, jika itu tujuannya, polisi bisa saja menangkap Novel di tempat selain KPK. "Kami yakin usaha menangkap Novel tidak murni, tapi memang untuk menghalangi KPK mengusut kasus simulator ujian surat izin mengemudi."
Polemik Polri dengan KPK meruncing setelah Jumat malam lalu anggota Kepolisian Daerah Bengkulu, Polda Metro Jakarta Raya, dan Provost Mabes Polri berencana membekuk penyidik Polri yang bertugas di KPK, Novel Baswedan, atas tuduhan penganiayaan yang terjadi 2004 silam. Novel adalah salah satu penyidik yang menangani kasus suap pengadaan simulator SIM.
Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris, Jenderal Sutarman, menyebut rencana penangkapan Novel sudah sesuai prosedur. Adapun Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, menyatakan pihaknya akan mempertahankan Novel dan menyediakan pendampingan hukum kepada penyidik berpangkat komisaris polisi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar